Sebenarnya manusia saling menyakiti tanpa direncana bukan? Saling menanam luka, dan menuainya Rasa-rasanya diberi sikap manis pun tak bisa terbuka Padahal sudah lama tak diingatkan luka Apakah kabar luka yang dulu tidak bisa di musnah? Walau ingatan sudah melupa Tapi entah bagian tubuh mana yang masih menyimpannya Ternyata luka itu diciptakan dan menciptakan Ia diciptakan oleh manusia Dan menciptakan manusia yang berbeda Tak pernah tanggal siklusnya Memaksanya pun sudah terlanjur Apakah manusia benar-benar transaksional Menyayangi tidak sungguhan Hanya atas dasar menggugurkan kewajiban Seperti sikap orang tua kepada orang tuanya yang sudah tua …. Sebuah renungan di bawah atap rumah
Kita memiliki kesamaan dalam mencintai. Dia mencintai Indonesia, layaknya aku mencintai karya-karya Indonesia. Jika kalimatnya mengandung cerita tentang Soekarno dan Marsinah, kalimatku menerbitkan kekaguman pada Sapardi dan Pramodya. Aku membacanya seperti membaca novel Laut Bercerita milik Leila, sangat nasionalis. Tapi, aku sedang terjebak dalam euforia prosa romansa. Dimana cerita-cerita romantik menjadi dominasi dalam realitas saat ini. Aku sedang tersandung dan belum bisa terbangun lagi untuk mulai membaca atmosfer baru. Galaksi bima sakti ini memberiku keadiktifan pada ilusi-ilusi romansa. Aku masih dalam mimpi-mimpi fana yang ingin lekas bangun untuk merasa dicintai secara utuh. Bisakah kau membantuku? Pintaku padanya suatu hari dalam hati. Indonesia dibuatnya senang karena suara teriakannya yang lantang akan perjuangan. Apakah dia mengharapkan dicintai kembali oleh Indonesia? Apakah Indonesia adalah subjek bernyawa yang dapat membalas cintanya? Tapi seolah-olah mencintai ...