Skip to main content

Posts

Manusia Transaksional

Sebenarnya manusia saling menyakiti tanpa direncana bukan? Saling menanam luka, dan menuainya Rasa-rasanya diberi sikap manis pun tak bisa terbuka Padahal sudah lama tak diingatkan luka Apakah kabar luka yang dulu tidak bisa di musnah? Walau ingatan sudah melupa Tapi entah bagian tubuh mana yang masih menyimpannya Ternyata luka itu diciptakan dan menciptakan Ia diciptakan oleh manusia Dan menciptakan manusia yang berbeda Tak pernah tanggal siklusnya Memaksanya pun sudah terlanjur Apakah manusia benar-benar transaksional Menyayangi tidak sungguhan Hanya atas dasar menggugurkan kewajiban Seperti sikap orang tua kepada orang tuanya yang sudah tua …. Sebuah renungan di bawah atap rumah
Recent posts

Indonesia Yang Dicintainya

Kita memiliki kesamaan dalam mencintai. Dia mencintai Indonesia, layaknya aku mencintai karya-karya Indonesia. Jika kalimatnya mengandung cerita tentang Soekarno dan Marsinah, kalimatku menerbitkan kekaguman pada Sapardi dan Pramodya. Aku membacanya seperti membaca novel Laut Bercerita milik Leila, sangat nasionalis. Tapi, aku sedang terjebak dalam euforia prosa romansa. Dimana cerita-cerita romantik menjadi dominasi dalam realitas saat ini.  Aku sedang tersandung dan belum bisa terbangun lagi untuk mulai membaca atmosfer baru. Galaksi bima sakti ini memberiku keadiktifan pada ilusi-ilusi romansa. Aku masih dalam mimpi-mimpi fana yang ingin lekas bangun untuk merasa dicintai secara utuh. Bisakah kau membantuku? Pintaku padanya suatu hari dalam hati. Indonesia dibuatnya senang karena suara teriakannya yang lantang akan perjuangan. Apakah dia mengharapkan dicintai kembali oleh Indonesia? Apakah Indonesia adalah subjek bernyawa yang dapat membalas cintanya? Tapi seolah-olah mencintai ...

Konstelasi Kebencian : "Aku benci hari-hari dengan smoke beef itu"

- Aku benci hari-hari dengan smoke beef itu -  15 Februari 2024 Menu smoke beef tampaknya menyenangkan Setelah terhidangkan ternyata remahan kentangnya bukan main Lebih enak dari potongan beef- nya yang kurang matang Tapi bumbu masakan padang itu tidak tertandingi Hari-hari dengan menu makan siang apapun Tetap bukan smoke beef yang menang Apalagi masakan padang dengan bumbunya Lalu?  Menu 'apapun' lah pemenangnya  Jika menu apapun itu bumbunya sepahit sikapmu

Konstelasi Kebencian : "Aku benci hari-hari dengan tester itu"

 - Aku benci hari-hari dengan tester itu - 14 Februari tahun ini, hari spesial katanya Tapi bagi siapa? Bagi yang sedang menang dalam perasaannya Salah, bukankah bagi seluruh rakyat Indonesia? Tepatnya bagi paslon yang unggul dalam perhitungan suara Ah persetan hari spesial Terlalu setiap hari aku merasakannya Sampai lupa letak spesialnya dimana Dan pada saat teringat,  Ternyata letaknya tertemukan saat tidak ada hari spesial bagiku Hari itu terasa sangat tidak spesial Manusia ini bekerja tanpa henti ..dan hati Pulang dengan tujuan tidur Makan dengan tujuan kenyang Menangis dengan tujuan sedih Tersenyum dengan tujuan bahagia Semua berjalan sesuai dengan polanya Kiranya inginku berjalan diluar pola Agar tampak 'spesial seperti biasanya' Pulang, makan, menangis, tersenyum dengan tujuan yang sama ..bercakap-cakap dengannya Lalu bagaimana dengan topik 'Aku benci hari-hari dengan tester itu' Lupakan, tester makanan manis itu kudapat saat perjalanan menuju pulangku yang membo...

Konstelasi Kebencian : "Aku benci hari-hari di toko buku"

 - Aku benci hari-hari di toko buku -  13 Februari 2024 Ajakan ke Blauran tampak menyenangkan Tapi tidak dengan Blaurannya Ternyata Blauran sudah ramai dengan ambisi materialistis para pedagangnya Tidak ada ketenangan, buku-buku hanya tersisa tuntunan sholat saja Kita mencari yang 'tidak ada' untuk dicari Teringat bahwa Surabaya bukan hanya soal Blauran saja Sudut lainnya dengan kios-kios buku yang tak ber-etik masih ada rupanya Tak ber-etik (?) buku ilegal yang dibenci penulisnya walaupun terisi tulisannya Kita beralih dari Blauran menuju salah satu gang di Jl.Semarang Kita mencari yang 'ada' untuk dicari Aku senang Selalu mengonsumsi untaian detik dengan rasa yang aku suka Di hari itu, dan hari-hari lainnya sebelum itu Tapi, apakah nafasku juga menyukainya? Atau hanya menjadi nafas karena tuhan yang menasibkannya Tidak diberi pilihan olehnya pada raga siapa nafas itu ditempatkan Dan pada suatu kebetulan, nafas itu bersua denganku Apakah ini tentang manusia dengan nafa...

BAB 1 : Perayaan Kepergian

- PROLOG - Gaungan musik yang mengiringi tarian era Old English sedang berdiaspora dalam jiwaku saat itu, setelah terenyahkan dengan karya-karya William Shakespeare pada performance sebelumnya. Tiba-tiba saja getaran gawai megalihkan lamunananku yang sedang menikmati gaungan musik yang tadinya sedang tekun berdiaspora. Pada gelembung obrolan pukul 09.58 kau dengan kejutanmu membuatku tak doyan lagi menikmati hidangan kolosal barat yang sedang berdendang di atas panggung. Kau menyampaikan semua perhitungan waktumu, perihal fakta kepergianmu yang segera menjadi "akan benar-benar pergi."  "Kepergian"  sesaat juga mengakibatkan "kehilangan" sesaat untuk siapa saja, terutama aku. Tapi tak habis pikir, ternyata akan ada perayaan kepergian setelah ini, ucap rencana-rencanamu. Terdengar aneh bukan? 'Perayaan kepergian' tapi memang begitu adanya. Mendengar diksi 'Kepergian' nampaknya menyakitkan ya. Tapi kontras sekali jika mendengar diksi 'pera...

Pengutus Ingin

  Jadilah narasi jika ingin dibaca Jadilah puisi jika ingin diterka Tapi,  menjadi aku yang tidak ingin menjadi narasi dan puisi adalah metafora mustahil Ternyata, Menjadi narasi harus pandai membaca dulu sebelum ingin dibaca Menjadi puisi harus pandai menerka dulu sebelum ingin diterka Menjadi aku yang tidak ingin menjadi narasi dan puisi harus pandai meniadakan 'ingin' Tapi,  Tidak ada pengutus yang mengharuskan peniadaan 'ingin' Jika memang 'ingin' itu menjadikan siapapun sebagai narasi dan puisi Jadilah yang sebaik baiknya memaknai :)