Musim pancaroba pada wilayah beriklim apa yang sebenarnya sedang aku telusuri. Padahal kemarau panjang itu belum sepenuhnya meringkas kaleidoskop bulan Agustus. Bukan lagi rintik gerimis yang berebut permukaan sabana itu, tapi derasan hujan dengan gemuruhnya entah dengan alasan apa ia rela bertaruh. Jika semak belukar bak rentetan dialog, maka sudah kupastikan dialog itu tumbuh dengan liar. Sepertinya lupa untuk disemaikan kembali, ada tapi tak benar-benar sadar jika ada. Mungkin derasan hujan itu jawaban atas doa para satwa yang iba kepada semak belukar itu. Tidak pernah ada yang berencana menerka, kapan sabana itu ditumbuhi bunga-bunga aster yang selalu riang sepanjang musim. Tapi derasan hujan itu menumbuhkan secercah harapan untuk itu.
Sebenarnya manusia saling menyakiti tanpa direncana bukan? Saling menanam luka, dan menuainya Rasa-rasanya diberi sikap manis pun tak bisa terbuka Padahal sudah lama tak diingatkan luka Apakah kabar luka yang dulu tidak bisa di musnah? Walau ingatan sudah melupa Tapi entah bagian tubuh mana yang masih menyimpannya Ternyata luka itu diciptakan dan menciptakan Ia diciptakan oleh manusia Dan menciptakan manusia yang berbeda Tak pernah tanggal siklusnya Memaksanya pun sudah terlanjur Apakah manusia benar-benar transaksional Menyayangi tidak sungguhan Hanya atas dasar menggugurkan kewajiban Seperti sikap orang tua kepada orang tuanya yang sudah tua …. Sebuah renungan di bawah atap rumah