Skip to main content

Konstelasi Kebencian : "Aku benci hari-hari dengan tester itu"

 - Aku benci hari-hari dengan tester itu -


14 Februari tahun ini, hari spesial katanya

Tapi bagi siapa?

Bagi yang sedang menang dalam perasaannya

Salah, bukankah bagi seluruh rakyat Indonesia?

Tepatnya bagi paslon yang unggul dalam perhitungan suara


Ah persetan hari spesial

Terlalu setiap hari aku merasakannya

Sampai lupa letak spesialnya dimana

Dan pada saat teringat, 

Ternyata letaknya tertemukan saat tidak ada hari spesial bagiku


Hari itu terasa sangat tidak spesial

Manusia ini bekerja tanpa henti

..dan hati

Pulang dengan tujuan tidur

Makan dengan tujuan kenyang

Menangis dengan tujuan sedih

Tersenyum dengan tujuan bahagia

Semua berjalan sesuai dengan polanya


Kiranya inginku berjalan diluar pola

Agar tampak 'spesial seperti biasanya'

Pulang, makan, menangis, tersenyum dengan tujuan yang sama

..bercakap-cakap dengannya


Lalu bagaimana dengan topik 'Aku benci hari-hari dengan tester itu'

Lupakan, tester makanan manis itu kudapat saat perjalanan menuju pulangku yang membosankan




Comments

Popular posts from this blog

Indonesia Yang Dicintainya

Kita memiliki kesamaan dalam mencintai. Dia mencintai Indonesia, layaknya aku mencintai karya-karya Indonesia. Jika kalimatnya mengandung cerita tentang Soekarno dan Marsinah, kalimatku menerbitkan kekaguman pada Sapardi dan Pramodya. Aku membacanya seperti membaca novel Laut Bercerita milik Leila, sangat nasionalis. Tapi, aku sedang terjebak dalam euforia prosa romansa. Dimana cerita-cerita romantik menjadi dominasi dalam realitas saat ini.  Aku sedang tersandung dan belum bisa terbangun lagi untuk mulai membaca atmosfer baru. Galaksi bima sakti ini memberiku keadiktifan pada ilusi-ilusi romansa. Aku masih dalam mimpi-mimpi fana yang ingin lekas bangun untuk merasa dicintai secara utuh. Bisakah kau membantuku? Pintaku padanya suatu hari dalam hati. Indonesia dibuatnya senang karena suara teriakannya yang lantang akan perjuangan. Apakah dia mengharapkan dicintai kembali oleh Indonesia? Apakah Indonesia adalah subjek bernyawa yang dapat membalas cintanya? Tapi seolah-olah mencintai ...

Pengutus Ingin

  Jadilah narasi jika ingin dibaca Jadilah puisi jika ingin diterka Tapi,  menjadi aku yang tidak ingin menjadi narasi dan puisi adalah metafora mustahil Ternyata, Menjadi narasi harus pandai membaca dulu sebelum ingin dibaca Menjadi puisi harus pandai menerka dulu sebelum ingin diterka Menjadi aku yang tidak ingin menjadi narasi dan puisi harus pandai meniadakan 'ingin' Tapi,  Tidak ada pengutus yang mengharuskan peniadaan 'ingin' Jika memang 'ingin' itu menjadikan siapapun sebagai narasi dan puisi Jadilah yang sebaik baiknya memaknai :)

Konstelasi Kebencian : "Aku benci hari-hari dengan smoke beef itu"

- Aku benci hari-hari dengan smoke beef itu -  15 Februari 2024 Menu smoke beef tampaknya menyenangkan Setelah terhidangkan ternyata remahan kentangnya bukan main Lebih enak dari potongan beef- nya yang kurang matang Tapi bumbu masakan padang itu tidak tertandingi Hari-hari dengan menu makan siang apapun Tetap bukan smoke beef yang menang Apalagi masakan padang dengan bumbunya Lalu?  Menu 'apapun' lah pemenangnya  Jika menu apapun itu bumbunya sepahit sikapmu