- Aku benci hari-hari di toko buku -
13 Februari 2024
Ajakan ke Blauran tampak menyenangkan
Tapi tidak dengan Blaurannya
Ternyata Blauran sudah ramai dengan ambisi materialistis para pedagangnya
Tidak ada ketenangan, buku-buku hanya tersisa tuntunan sholat saja
Kita mencari yang 'tidak ada' untuk dicari
Teringat bahwa Surabaya bukan hanya soal Blauran saja
Sudut lainnya dengan kios-kios buku yang tak ber-etik masih ada rupanya
Tak ber-etik (?) buku ilegal yang dibenci penulisnya walaupun terisi tulisannya
Kita beralih dari Blauran menuju salah satu gang di Jl.Semarang
Kita mencari yang 'ada' untuk dicari
Aku senang
Selalu mengonsumsi untaian detik dengan rasa yang aku suka
Di hari itu, dan hari-hari lainnya sebelum itu
Tapi, apakah nafasku juga menyukainya?
Atau hanya menjadi nafas karena tuhan yang menasibkannya
Tidak diberi pilihan olehnya pada raga siapa nafas itu ditempatkan
Dan pada suatu kebetulan, nafas itu bersua denganku
Apakah ini tentang manusia dengan nafasnya?
Dengan begitu yakin, manusia itu sangat membutuhkannya
Mungkin manusia itu akan mati tanpa nafasnya
Tapi nafasnya? Apakah akan mati juga tanpa manusia itu
Pada dunia paralel mana sebenarnya nafas itu jika pergi
Tapi ini bukan tentang manusia dan nafasnya
Manusia, nafas, apasih ini
Kenapa harus ada pengibaratan, perumpamaan, penganalogian sih
Jika semuanya bisa secara gamblang dijelaskan
Baiklah, sederhananya 'Aku benci hari-hari di toko buku'
Comments
Post a Comment