Skip to main content

BAB 1 : Perayaan Kepergian

- PROLOG -

Gaungan musik yang mengiringi tarian era Old English sedang berdiaspora dalam jiwaku saat itu, setelah terenyahkan dengan karya-karya William Shakespeare pada performance sebelumnya. Tiba-tiba saja getaran gawai megalihkan lamunananku yang sedang menikmati gaungan musik yang tadinya sedang tekun berdiaspora.

Pada gelembung obrolan pukul 09.58 kau dengan kejutanmu membuatku tak doyan lagi menikmati hidangan kolosal barat yang sedang berdendang di atas panggung. Kau menyampaikan semua perhitungan waktumu, perihal fakta kepergianmu yang segera menjadi "akan benar-benar pergi." 

"Kepergian"  sesaat juga mengakibatkan "kehilangan" sesaat untuk siapa saja, terutama aku. Tapi tak habis pikir, ternyata akan ada perayaan kepergian setelah ini, ucap rencana-rencanamu. Terdengar aneh bukan? 'Perayaan kepergian' tapi memang begitu adanya.

Mendengar diksi 'Kepergian' nampaknya menyakitkan ya. Tapi kontras sekali jika mendengar diksi 'perayaan' yang sepertinya penuh kegembiraan. Lantas kejutan yang seperti apa sebenarnya di balik agenda 'Perayaan Kepergian' ini?

- BAB PENGANTAR -

Surabaya pagi selalu hangat, diiringi dengan obrolan-obrolan manis menjadikan menu sarapan pagi jadi nampak mengenyangkan. Tapi mengingat bahwa ini adalah agenda merayakan kepergian, nampaknya mau gembira pun ikut sungkan.

Masih berbicara soal Surabaya, ternyata Surabaya bukan hanya soal gedung pencakar langitnya saja yang terlihat megah, truk-truk dan asapnya juga membuat kita kagum. Kagum? Ya, Surabaya ternyata sekuat itu walaupun seringkali dicerca ia masih tetap menjadi Surabaya yang kita kenal, tidak pernah berubah.

Obrolan manis dan hangatnya Surabaya menjadi halaman pengantar dari bab cerita selanjutnya. Cerita perihal 'Perayaan Kepergian' ini hadir sebagai memoar penting bagi penulis dan orang yang diceritakannya. Pembacanya adalah orang-orang yang pasti ingin lebih dekat dengan tulisan penulisannya, sebagai bentuk apresiasi penulis mengucapkan 'terima kasih yang paling berarti'

Selamat membaca :D


- BAB 1 : PERAYAAN KEPERGIAN -

Aku tidak tahu, sudah terhitung ada berapa kali badai yang menyertai hujan yang seharusnya berhujung pelangi, sudah terhitung ada berapa milyar kosakata yang selalu menemani kunjungan-kunjungan cafe yang tidak berpesanan kafein, dan sudah terhitung ada berapa jumlah gigabyte yang dihabiskan untuk menyimpan semua tragedi yang diabadikan. Dari segala perhitungan yang ada, hari itu adalah kalkulasi akhir yang paling berkesan. Kau dengan kejutanmu membuatku semakin malas untuk mengitung unit-unit kebahagiaan yang bermunculan. Tidak ada rumus pasti untuk itu, aku pun ragu jika kalkulator bisa menghitungnya.

Aku sampai pada perairan duniawi yang menakjubkan, melihat panorama pantulan awan di bawah sampan kayu yang berjalan perlahan. Mengobrol diatas sampan kayu? Ah terlalu romantis seperti di film ftv. Kita seperti halnya manusia lain yang lekat dengan sifat narsistiknya. Lensa kamera tersorot kesana kemari untuk mengabadikan momentum yang hanya sekali dalam hidup. Karena sejatinya manusia tidak pernah bisa mengulangi kejadian-kejadian dengan kesan yang sama dalam hidupnya.

Sejenak biarkan konstelasi kosakata-kosakata ini yang mewakilkan perasaanku..


Hari itu adalah bait-bait yang tidak bisa aku ceritakan 

Ketidakahlianku dalam menulis khawatir menciderai keindahan cerita di hari itu

Hari itu kau buat begitu istimewa, dibuatnya hanya ada aku, kau dan dunia kita

Lelah duniawi sejenak terpending untuk digantikan dengan euforia penuh arti ini

Aku semakin memeluk erat rasa syukur yang dianugerahkan tuhan

Kalimat hiperbola apapun rasanya tidak cocok untuk mengiringi rasa bahagia ini

Kepada kau, aku selalu dibuatnya merasa berarti

Terima kasih untuk yang kesekian kali


Dayungan perahu kano dan teriknya matahari sepertinya juga merasa berisik mendengar bahakan tawa kita. Ternyata awal Perayaan Kepergian ini benar-benar 'merayakan', dimana letak kesedihannya? Tidak ada. 

Ternyata kepergian yang dirayakan semenyenangkan ini, lantas apakah harus pergi agar bisa merasakan perayaan yang menyenangkan?


bersambung..

Comments

Popular posts from this blog

Pengutus Ingin

  Jadilah narasi jika ingin dibaca Jadilah puisi jika ingin diterka Tapi,  menjadi aku yang tidak ingin menjadi narasi dan puisi adalah metafora mustahil Ternyata, Menjadi narasi harus pandai membaca dulu sebelum ingin dibaca Menjadi puisi harus pandai menerka dulu sebelum ingin diterka Menjadi aku yang tidak ingin menjadi narasi dan puisi harus pandai meniadakan 'ingin' Tapi,  Tidak ada pengutus yang mengharuskan peniadaan 'ingin' Jika memang 'ingin' itu menjadikan siapapun sebagai narasi dan puisi Jadilah yang sebaik baiknya memaknai :)

Manusia Transaksional

Sebenarnya manusia saling menyakiti tanpa direncana bukan? Saling menanam luka, dan menuainya Rasa-rasanya diberi sikap manis pun tak bisa terbuka Padahal sudah lama tak diingatkan luka Apakah kabar luka yang dulu tidak bisa di musnah? Walau ingatan sudah melupa Tapi entah bagian tubuh mana yang masih menyimpannya Ternyata luka itu diciptakan dan menciptakan Ia diciptakan oleh manusia Dan menciptakan manusia yang berbeda Tak pernah tanggal siklusnya Memaksanya pun sudah terlanjur Apakah manusia benar-benar transaksional Menyayangi tidak sungguhan Hanya atas dasar menggugurkan kewajiban Seperti sikap orang tua kepada orang tuanya yang sudah tua …. Sebuah renungan di bawah atap rumah

Indonesia Yang Dicintainya

Kita memiliki kesamaan dalam mencintai. Dia mencintai Indonesia, layaknya aku mencintai karya-karya Indonesia. Jika kalimatnya mengandung cerita tentang Soekarno dan Marsinah, kalimatku menerbitkan kekaguman pada Sapardi dan Pramodya. Aku membacanya seperti membaca novel Laut Bercerita milik Leila, sangat nasionalis. Tapi, aku sedang terjebak dalam euforia prosa romansa. Dimana cerita-cerita romantik menjadi dominasi dalam realitas saat ini.  Aku sedang tersandung dan belum bisa terbangun lagi untuk mulai membaca atmosfer baru. Galaksi bima sakti ini memberiku keadiktifan pada ilusi-ilusi romansa. Aku masih dalam mimpi-mimpi fana yang ingin lekas bangun untuk merasa dicintai secara utuh. Bisakah kau membantuku? Pintaku padanya suatu hari dalam hati. Indonesia dibuatnya senang karena suara teriakannya yang lantang akan perjuangan. Apakah dia mengharapkan dicintai kembali oleh Indonesia? Apakah Indonesia adalah subjek bernyawa yang dapat membalas cintanya? Tapi seolah-olah mencintai ...